Industri Tembaga Di Papua

Industri Tembaga Di Papua

Sumber gambar: tribunnews (Grasberg, Tambang emas dan tembaga Freeport di Papua)

Oleh: Restu Hasanah

Halo teman-teman semuanya jumpa lagi dengan mintekim. Pada kesempatan kali ini mintekim akan membagikan info yang sangat menarik dan tentunya bermanfaat untuk kalian para pembaca setia teknik kimia. Pada kesempatan kali ini mintekim akan membahas dunia perindustrian. Baru mendengar saja mungkin sudah sangat familiar dan tentu saja dunia industri memang cukup luas,tapi tenang saja pada kesempatan ini mintekim akan membahas industri tembaga. Tembaga sendiri merupakan suatu unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang Cu dengan nomor atom 29 serta termasuk logam transisi (golongan I B) yang berwarna kemerahan, mudah regang dan mudah ditempa. Tembaga biasanya diperoleh dari bijih senyawa sulfida.

Pertumbuhan dan perkembangan industri tembaga telah tumbuh secara melekat, meskipun ada logam pengganti dalam penggunaan khusus, namun tembaga telah mengakar dan memperluas pasar di industri listrik, industri komunikasi serta industri elektronik. Produksi listrik an elektronik termasuk kabel listrik menyumbang lebih dari 1/3 dari total penggunaan, dan konstruksi termasuk kabel dan pipa air. Sementara industri transportasi menggunakan kira-kira 1/8 dari total mesin dan peralatan industri hamoir 1/10 dan berbagai macam produk konsumen dan produk lain sisanya.

Salah satu daerah penghasil tembaga terbesar di dunia terdapat di tambang tembaga Escondida, Chili. Tambang ini berada di Gurun Atacama di Chili Utara. Tambang ini dimiliki dan dikerjakan oleh BHP sekitar 57,5% , Rio Tinto sekitar 30% dan Japan Escondida 12,5%. Tambang ini mampu memproduksi hingga 1,4 juta ton per tahun atau bisa dikatakan jumlah ini setara dengan 7% dari total produksi tembaga sedunia dengan total cadangan tembaga di Chili diperkirakan mencakup 23% cadangan tembaga di seluruh dunia yang nantinya diperkirakan cadangan tersebut akan habus 54 tahun yang akan datang.

Pada tahun 2017 Indonesia merupakan penghasil pertambangan tembaga terbesar ke-11 di dunia dengan kapasitas produksi setara 600 ribu ton per tahun. Wilayah tembaga di Indonesia terdapat di Grasberg, Papua yang dioperasikan oleh PT Freeport Indonesia. Perusahaan ini telah menghasilkan 528 miliar ons tembaga, termasuk lebih dari 432 miliar ons tembaga dari tambang terbuka Grasberg antara tahun 1990 dan 2019. Berdasarkan World Bureau of Metal Statistics produksi tembaga Indonesia telah menurun secara bertahap sejak tahun 2016, dari 695.900 metrik ton menjadi 400.200 pada tahun 2019.

Tambang Grasberg yang terletak di Papua yang ditemukan pada tahunn 1988 dan penambangan dimulai sejak tahun 1990. Tambang ini juga memiliki keunikan dengan memproduksi dua logam sekaligus yaitu emas dan tembaga dengan pengoperasian meliputi tambang terbuka dan bawah tanah. Ekstraksi bijih tembaga dari tambang bawah tanah Grasberg Block Cave dimulai pada triwulan kedua tahun 2019, yang merupakan lokasi bijih yang sama yang ditambang dari permukaan tambang terbuka Grasberg. Penambangan tahap akhir tambang terbuka Grasberg telah selesai pada triwulan keempat 2019, dan penambangan dialihkan dari penambangan terbuka ke penambangan bawah tanah skala besar. Grasberg Block Cave diperkirakan memiliki cadangan yang telah terbukti dan terkira sebesar 275,2 miliar ons tembaga dan 14,2Moz emas per Desember 2019. PT Freeport Indonesia dan Tsingshan Steel telah menyepakati secara prinsipil pembangunan smelter baru senilai 1,8 miliar dolar Amerika Serikat di Teluk Weda, Halmahera. Perjanjian definitif diharapkan dapat ditandatangani sebelum Maret 2021.

Jadi industri tembaga memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari terlebih sebagai lulusan teknik kimia,ini merupakan salah satu prospek kerja yang sangat menggiurkan terutama dilihat dari besarnya gaji.

Demikian artikel serba-serbi teknik kimia mengenai dunia perindustrian khusunya industri, semoga bermanfaat.

Sumber: Deloitte Indonesia Perspectives | Edisi Kedua, Februari 2021